Menu

Mode Gelap
Bursa Sekwan DPRD Kampar Menghangat, Antara Pilihan Bupati dan Pimpinan Dewan Ratusan Warga Sei Jernih Bersatu Tuntut Hak Terhadap PT Agrinas, Beri Tenggat Waktu 2×24 Jam Sambut Kunjungan Bidhumas Polda Riau, PWI Riau Sepakati Sampaikan Informasi Akurat Kepada Masyarakat Bupati dan DPRD Kampar Tandatangani Kesepakatan Perubahan KUA-PPAS APBD 2026 Kapolda Riau Lakukan Patroli Udara Terhadap Karhutla Pelalawan Polres Kampar Amankan 4 Pelaku Karhutla, 17 Hektare Lahan Terbakar di Kecamatan Tambang

Kampar

Marak Pembukaan Lahan Sawit, Disbunnak Keswan Kampar Sebut Luas Lahan Karet Terus Berkurang Setiap Tahun

badge-check


					Marak Pembukaan Lahan Sawit, Disbunnak Keswan Kampar Sebut Luas Lahan Karet Terus Berkurang Setiap Tahun Perbesar

KAMPAR – Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disbunnak Keswan) kabupaten Kampar menyatakan luas perkebunan karet di Kampar terus berkurang. Ditemukan dalam beberapa tahun terakhir karena beralih ke kebun sawit.

Angkanya, untuk saat ini lahan karet yang tersisa di Kabupaten Kampar hanya tinggal 36 ribu hektar. Angka ini terus berkurang tiap tahunnya.

Pasalnya bisnis perkebunan kelapa sawit justru semakin menguntungkan jika dibandingkan dengan harga komoditi karet yang terus stabil bahkan turun.

“Dari catatan kami masih ada 36 ribu hektar lahan karet yang ada di Kabupaten Kampar. Lahannya terus berkurang karena minat petani berubah,” kata Kepala Disbunnak Keswan Kabupaten Kampar Marahalim melalui kepala bidang Usaha Tani Nuraini, Jumat (13/2/2025).

Ia menambahkan minat petani justru berkurang dikarenakan untuk menggarap kebun karetnya karena kulit karet sangat tergantung dengan faktor cuaca karena berpengaruh ke hasil produksi.

“Kesadaran petani sudah mulai tinggi dengan menanam sawit, hanya 2 tahun saja. Setelah itu sudah mulai menghasilkan buah,” ujarnya.

“Karet panennya setiap hari, kalau hujan tidak bisa panen, belum lagi persoalan hasil. Kalau Sawit, 10-15 hari bisa langsung panen lagi dan hasilnya jauh berbeda dan menguntungkan bagi petani,” pungkas Nuraini.

Trending di Kampar