Menu

Mode Gelap
Sekretaris DPD Golkar Kampar Yuli Hendra Wafat, Repol: Berpulang di Hari Baik Bupati Ahmad Yuzar bersama Ombudsman RI Kunjungi Mall Pelayanan Publik Kabupaten Kampar Anggota DPR Syahrul Aidi Maazat Kecam Penghadangan UAS di Kutai Barat, Minta Aparat Lindungi Tokoh Agama Tim Raga Polres Kampar Lakukan Patroli Malam, Antisipasi Balap Liar Kapolda Riau Jenguk Korban Pengeroyokan, Tegaskan Kasus Diusut Tuntas Tanpa Pandang Bulu Polsek Tapung Hilir Tangkap Warga Kota Aman yang Kantongi Narkoba Jenis Sabu-sabu

Riau

Denyut Energi Hijau dari Jantung Perkebunan Sawit PTPN IV

badge-check


					Denyut Energi Hijau dari Jantung Perkebunan Sawit PTPN IV Perbesar

RadarMerdeka.com – Tak banyak yang menyadari bahwa di balik hamparan kelapa sawit yang selama puluhan tahun identik dengan minyak goreng dan tandan buah segar, kini lahir denyut energi baru.

Dari limbah yang dahulu hanya dipandang sebagai sisa proses produksi, PTPN IV PalmCo mengubahnya menjadi tenaga yang menghidupkan mesin, menekan emisi karbon, sekaligus menghadirkan harapan baru bagi masa depan energi Indonesia.

Setelah melewati hamparan kebun sawit yang membentang di Kecamatan Tandun, Kabupaten Kampar, senin (22/6/2026) suara mesin dari Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Tandun terdengar bekerja tanpa henti.

Di balik aktivitas pengolahan tandan buah segar itu, terdapat sebuah proses yang nyaris luput dari perhatian. Limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME), yang selama bertahun-tahun identik sebagai sisa produksi, kini menjelma menjadi sumber energi yang menghidupkan roda industri.

Selama lebih dari satu dekade, PKS Tandun yang berada di bawah pengelolaan PTPN IV Regional III memanfaatkan limbah cair sawit sebagai bahan baku Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg).

Dari instalasi tersebut, limbah yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi diolah menjadi energi listrik berkapasitas 1,5 megawatt untuk memenuhi kebutuhan operasional pabrik inti sawit (Palm Kernel Oil/PKO) di kawasan Kebun Tandun.

Region Head PTPN IV Regional III, Bambang Budi Santoso, mengatakan langkah tersebut bukanlah program yang lahir karena tren energi hijau belaka.

Upaya itu telah dimulai sejak 2013 sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam menerapkan prinsip keberlanjutan di setiap rantai produksinya.

“Seluruh aktivitas operasional di Pabrik Kelapa Sawit Tandun dilaksanakan dengan mematuhi ketentuan lingkungan yang berlaku serta mengedepankan prinsip keberlanjutan,” ungkap Bambang.

Menurutnya, sejak lebih dari sepuluh tahun lalu PKS Tandun telah dilengkapi fasilitas pengolahan limbah modern yang beroperasi sesuai baku mutu lingkungan yang ditetapkan pemerintah.

Limbah cair yang dihasilkan tidak lagi dipandang sebagai residu yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber energi yang dimanfaatkan kembali untuk mendukung proses produksi.

“Jadi tidak ada yang namanya limbah terbuang, karena itu sumber energi baru terbarukan bagi kami. Kami olah dan manfaatkan kembali untuk menghasilkan energi yang kemudian digunakan dalam proses operasional pabrik. Ini adalah bentuk nyata komitmen kami terhadap pengelolaan berkelanjutan,” katanya.

Pemanfaatan POME menjadi energi listrik tidak hanya menghadirkan efisiensi operasional, tetapi juga memperlihatkan bagaimana konsep ekonomi sirkular diterapkan di sektor perkebunan.

Setiap tetes limbah yang dihasilkan kembali dimanfaatkan sehingga mampu mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis bahan bakar fosil sekaligus menekan potensi emisi gas rumah kaca.

Komitmen tersebut tidak berhenti di PKS Tandun. PTPN IV Regional III terus memperluas investasi pada energi baru terbarukan dengan mengoperasikan enam instalasi biogas di berbagai unit kerja.

Dua di antaranya dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik, sementara empat lainnya digunakan sebagai sistem co-firing untuk mendukung proses produksi.

Keseriusan itu kembali mendapat pengakuan ketika instalasi PLTBg co-firing di Lubuk Dalam, Kabupaten Siak, berhasil meraih Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK).

Pengakuan tersebut menjadi yang pertama diraih industri sawit nasional dan membuka peluang pemanfaatan kredit karbon, sekaligus memperkuat posisi perusahaan dalam mendukung pengembangan ekonomi rendah emisi.

Bagi PTPN IV Regional III, keberhasilan itu bukan sekadar pencapaian teknologi. Lebih dari itu, inovasi tersebut menjadi bukti bahwa transisi energi dapat dimulai dari sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan energi bersih, limbah sawit tidak lagi menjadi akhir dari sebuah proses produksi, melainkan awal dari lahirnya energi yang memberi manfaat bagi industri, lingkungan, dan masa depan.

Dilain sisi dengan ketidakpastian harga energi fosil akibat dinamika geopolitik global, banyak pelaku industri dipaksa mencari cara untuk menjaga efisiensi dan keberlangsungan operasional. Bagi PTPN IV PalmCo, langkah itu sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum krisis energi menjadi perhatian dunia.

Perusahaan memanfaatkan limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) sebagai sumber energi terbarukan melalui Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg). Limbah yang sebelumnya menjadi tantangan dalam pengelolaan lingkungan kini diolah menjadi biogas, kemudian dikonversi menjadi listrik untuk menopang operasional pabrik kelapa sawit.

Bagi PalmCo, transformasi ini bukan sekadar upaya menghemat biaya energi. Di balik teknologi yang bekerja tanpa henti itu, tersimpan perubahan cara pandang terhadap limbah.

Apa yang dahulu dianggap sebagai akhir dari proses produksi, kini justru menjadi awal lahirnya energi yang lebih bersih.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan pengembangan energi terbarukan merupakan strategi jangka panjang perusahaan, bukan respons sesaat terhadap melonjaknya harga energi dunia.

“Gejolak harga energi fosil dunia saat ini justru membuktikan bahwa pengembangan energi terbarukan yang kami lakukan adalah langkah tepat. PLTBg membantu kami mengurangi ketergantungan terhadap solar, sekaligus menjaga efisiensi biaya operasional,” ujarnya.

Saat ini PalmCo mengoperasikan dua fasilitas PLTBg, yakni PLTBg Terantam dan PLTBg Tandun. Keduanya menggunakan teknologi covered lagoon untuk menangkap gas metana yang terbentuk dari proses penguraian limbah cair kelapa sawit.

Gas tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik yang menyuplai kebutuhan energi Pabrik Kelapa Sawit (PKS), sehingga penggunaan genset berbahan bakar solar dapat ditekan secara signifikan.

Strategi tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga menghadirkan dampak ekonomi yang nyata. Dalam kurun 2023 hingga 2025, PalmCo berhasil mengurangi konsumsi solar lebih dari 2,6 juta liter. Efisiensi itu berkontribusi terhadap penghematan biaya energi yang mencapai sekitar Rp39,5 miliar.

Namun, angka-angka itu hanyalah sebagian dari cerita.

Di balik penghematan tersebut, terdapat upaya membangun sistem industri yang lebih berkelanjutan. Limbah cair yang sebelumnya berpotensi menghasilkan emisi metana kini ditangkap dan dimanfaatkan sebagai sumber energi.

Dengan demikian, perusahaan tidak hanya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, tetapi juga menekan pelepasan gas rumah kaca ke atmosfer.

Direktur Strategy & Sustainability PalmCo, Ugun Untaryo, menegaskan bahwa pemanfaatan POME merupakan bagian dari penerapan ekonomi sirkular di lingkungan perusahaan.

“Ini bukan sekadar efisiensi, tetapi bagian dari ekonomi sirkular. Limbah cair yang sebelumnya menjadi tantangan lingkungan kini kami olah menjadi sumber energi yang bernilai,” katanya.

Sepanjang tahun lalu, dua fasilitas PLTBg tersebut mengolah lebih dari 293 ribu meter kubik limbah cair kelapa sawit. Dari proses itu dihasilkan jutaan meter kubik gas metana yang dimanfaatkan sebagai energi sekaligus mencegah emisi gas rumah kaca terlepas ke atmosfer.

Di tengah meningkatnya kebutuhan akan energi bersih, langkah PalmCo menunjukkan bahwa transisi energi tidak selalu harus dimulai dari pembangunan infrastruktur baru yang mahal. Solusi juga dapat lahir dari optimalisasi sumber daya yang selama ini terabaikan.

Bagi industri perkebunan, limbah bukan lagi sekadar residu produksi. Ia telah menjelma menjadi sumber energi, penggerak efisiensi, sekaligus bagian dari upaya menjaga bumi.

Dari jantung perkebunan sawit, denyut energi hijau itu terus berdetak menghidupkan mesin, mengurangi emisi, dan memberi pesan bahwa masa depan energi Indonesia dapat dibangun dari keberanian mengubah limbah menjadi harapan.

Penulis : M. Rio Aldo (PWI Kampar)

Trending di Riau