Menu

Mode Gelap
LSP Institut STIAMI Gelar Uji Kompetensi Skema Pengelolaan Sistem Pergudangan Hilirisasi Sawit Jadi Senjata Utama, Bupati Anton Bidik Lonjakan PAD dari Puluhan PKS di Rokan Hulu Serahkan Bantuan Sembako dari Bapanas, Wabup: Komitmen Pemerintah Jaga Stabilitas Pangan Wabup Misharti Ikuti Rakor Pengendalian Inflasi dan Evaluasi Program Nasional Upaya Tingkatkan Edukasi Bahaya Korupsi, Bupati Ahmad Yuzar Hadiri Screening Film ACFFEST Ketua Kapemary Kampar Zamhur Bersama Pengurus Resmi Dikukuhkan Ketum Zukri

Kampar

Antisipasi PMK Hewan, Disbunnak Keswan Kampar Lakukan Berbagai Upaya

badge-check


					Antisipasi PMK Hewan, Disbunnak Keswan Kampar Lakukan Berbagai Upaya Perbesar

BANGKINANGKOTA – Dinas Perkebunan, Peternakan, dan Kesehatan Hewan Kabupaten Kampar bidang kesehatan hewan terus berupaya mengantisipasi Penyakit mulut dan kuku (PMK) di wilayah Kabupaten Kampar.

PMK merupakan penyakit hewan yang serius dan sangat menular. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini menyerang semua hewan berkuku belah, termasuk sapi, kerbau, domba, kambing, dan lainnya.

Penyakit ini bisa sangat melemahkan hewan yang akhirnya akan mengakibatkan hilangnya produksi daging dan susu. Pada hewan muda, PMK bisa berakibat fatal. Itulah mengapa PMK menjadi salah satu penyakit Hewan yang paling ditakuti pemilik ternak.

Kadisbunnak keswan Kampar, Marahalim, S.Pt melalui Plt. Kabid keswan Azto S.Pt kepada media menyampaikan bahwa PMK ini sering terjadi pada musim hujan.

“PMK disebabkan oleh virus bernama Aphthovirus yang sangat menular. Virus tersebut bisa menyebar melalui cairan dari lepuh dan oleh air liur hewan yang terinfeksi. Di Kampar sering muncul PMK ini ketika pada musim hujan. Makanya kami berikan vaksinasi melalui petugas kepada peternak,” ujarnya, senin (3/11/2025).

Lebih lanjut, Azto menjelaskan hewan bisa terinfeksi bila melakukan kontak dengan hewan yang terinfeksi, bagian hewan yang terkontaminasi atau benda yang terkontaminasi seperti peralatan peternakan.

“Virus PMK bisa bertahan dalam pakan, air dan di permukaan hingga satu bulan, tergantung pada suhu dan kondisi tanah,” katanya.

Virus tersebut juga bisa bertahan dalam jaringan hidup dan dalam napas, air liur, urin, dan ekskresi lain dari hewan yang terinfeksi.

“Dalam kondisi tertentu, angin juga bisa menyebarkan virus,” tutup Azto.

Trending di Kampar